Showing posts with label rilis. Show all posts
Showing posts with label rilis. Show all posts

"Ode To Lampung Prov", sebuah persembahan dari Fatman untuk Provinsi Lampung!

No comments

Sunday, June 30, 2019


Ode To Lampung Prov, sebuah persembahan dari Fatman untuk Provinsi Lampung!
Doc. Fatman/Punk/Lampung.

Fatman;
Setelah merilis album perdana bertajuk “Am I In Wrong Generation?” (2016), Fatman, unit punk dari Lampung yang beranggotakan Adam Aldino (Drum), Dwi Prakoso (Bass) dan Luthfi Satria (Vokal dan Gitar), kembali merilis EP bertajuk “Ode To Lampung Prov” yang merupakan respon Fatman terhadap fenomena sosial yang terjadi di Indonesia maupun di kota kelahiran mereka, Bandar Lampung.

Pasca 2 tahun setelah perilisan album perdana, Tahun 2018 Fatman kembali masuk ke studio dan merampungkan materi EP “Ode To Lampung Prov”. Kali ini pada “Ode To Lampung Prov”, Fatman mendedikasikan EP Ini untuk Provinsi Lampung, tepatnya kota Bandar lampung yang menjadi tempat asal mereka lahir dan menetap hingga saat ini.

Fatman percaya bahwa dengan keragaman suku dan budaya dari seluruh Nusantara yang ada di Provinsi Lampung, Provinsi Lampung dapat lebih produktif dan berkembang terutama pada bidang pembangunan industri kreatif yang telah banyak bermunculan beberapa tahun kebelakangan ini yang di gawangi oleh muda mudi penduduk Kota Bandar Lampung maupun Provinsi Lampung Itu sendiri, bersinergi dan saling support satu sama lain adalah kunci yang dipercayai Fatman dalam perkembangan tersebut.

Ode To Lampung Prov! debut EP dari Fatman untuk Provinsi Lampung!
Artwork by Wicakspocth / Fatman - Ode To Lampung Prov.

Kini Lampung bisa dibilang sebagai “Jakarta kecil”. Karena ke ramah tamahan masyarakatnya maupun tingkat toleransinya yang tinggi, banyak masyarakat pendatang dari seluruh Indonesia yang bekerja serta menetap, bahkan beranak cucu di provinsi ini, termasuk para personil Fatman sendiri secara suku bukan asli dari Provinsi Lampung. Dibalik segala kekurangan dan ketidak setujuan akan komparasi yang irasional terhadap kota tercinta dengan kota-kota besar di Indonesia serta “labeling” hal negatif yang terjadi sampai saat ini, Lampung adalah suatu kebanggaan dan identitas untuk Fatman dimanapun dan kapanpun mereka berada. Di dasari pada keyakinan bahwa sebuah kebanggaan atau perubahan yang mengarah kepada kemajuan dari berbagai macam aspek, harus dimulai dari setiap masyarakat penduduk Provinsi Lampung itu sendiri terlepas setiap perbedaan yang ada di Provinsi Lampung. Karena mengutip dari potongan lirik Ode To Lampung Prov: “ Mak Ganta Kapan Lagi, Mak Gham Siapa Lagi?” yang berarti “Kalau Bukan Sekarang Kapan Lagi, Kalau Bukan Kita Siapa Lagi?”.

Selain berisi tentang rasa terima kasih Fatman terhadap tempat asal mereka lahir, Provinsi Lampung, pada track lain berisikan respon Fatman dari beberapa fenomena sosial yang terjadi di lingkungan sekitar maupun di Indonesia maupun dunia.

Pada “Ode To Lampung Prov” Fatman mengajak beberapa musisi Lampung yang turut berkolaborasi dalam beberapa track di EP ini, antara lain Ihwan Fikri dari Bekangkon Haji, Triga Irvanda dari Lowres dan Nanda Pamungkas dari Soundcity serta beberapa kerabat dekat-dekat lain yang mengisi beberapa part backing vokal di EP ini.

Keseluruhan track direkam di Nolkilometer Studio, Bandar Lampung. Pengerjaan Artwork “Ode To Lampung Prov” pun bekerja sama dengan Artworker asal Lampung, Saktia Wicaksono (Wicakspotch).

Ode To Lampung Prov” telah dirilis pada perayaan Record Store Day 2019 Lampung, tanggal 20 April di Klub Sumur, Bandar Lampung., Lampung, Indonesia.

Debut FATMAN:

Am I In Wrong Generation?
Pada tahun 2016, Fatman merilis full album bertajuk “Am I In Wrong Generation?” yang berisikan 10 track yang di rekam di Nolkilometer studio.

Am I In Wrong Generation?

Am I In Wrong Generation?



Tracks


  1. Fatman from the album Am I In Wrong Generation?
  2. Fatman from the album Am I In Wrong Generation?
  3. Fatman from the album Am I In Wrong Generation?
  4. Fatman from the album Am I In Wrong Generation?
  5. Fatman from the album Am I In Wrong Generation?
  6. Fatman from the album Am I In Wrong Generation?
  7. Fatman from the album Am I In Wrong Generation?
  8. Fatman from the album Am I In Wrong Generation?
  9. Fatman from the album Am I In Wrong Generation?
  10. Fatman from the album Am I In Wrong Generation?


Pada album “Am I In Wrong Generation?” FATMAN merilis video klip “Santai Sejenak” di tahun 2017 yand garap oleh Anthony Caesar dan di sutradarai oleh Luthfi Satria. Kemudian di awal tahun 2018, bekerja sama dengan sebuah grup kreatif seni visual, Manasuka Films untuk merilis video klip “You & Me ft Nia”.








Ode To Lampung Prov
Tahun 2019, kini FATMAN kembali hadir dengan merilis sebuah EP bertajuk “Ode To Lampung Prov” yang berisikan 6 Tracks yang kembali direkam di Nolkilometer Studio.

More information:
Email: [email protected]
Instagram: @fatman.official
Twitter: @fatmanofficial
Bandcamp: fatmanoffiicial.bandcamp.com
Soundcloud: soundcloud.com/fatman-official
Youtube: https://bit.ly/2PhGj60





"Tattooed Love" sebagai pembuka serangkaian rilisan Luise Najib

No comments

Tuesday, June 11, 2019

tattooed love sebagai pembuka rilisan luise najib kepsir


Luise Najib,
penyanyi dan penulis lagu dari Yogyakarta. Setelah bertahun-tahun berkarir di dunia musik, Luise sekarang memilih untuk lebih fokus dalam menggabungkan karakter vokalnya dengan musik elektronik. Pada tahun lalu (2018), Luise merilis lagu "Winter's Fault" yang terinspirasi oleh perjalanannya menjadi seorang Ibu. Sekarang, sebagai bagian dari Double Deer Music, Luise merilis single baru berjudul "Tattooed Love".

"Tattooed Love", sebuah lagu yang memulai serangkaian penulisan lagu berbasis elektronik seorang Luise Najib. Awalnya lagu itu cukup sederhana, ditulis ketika Luise sering tampil sendiri hanya dengan sebuah mesin looper. ‘Saya diberi tantangan oleh seorang teman untuk mulai menampilkan lagu sendiri.’ Untungnya bagi Luise, menulis lagu menjadi hal yang alami, karena pengalamannya bermain musik begitu lama, ia dapat membawa cerita menjadi lagu yang menarik.


Dengan ketukan dan lirik menawan, "Tattooed Love" menjadi lagu yang dipilih untuk membuka serangkaian rilisan Luise di tahun ini. Lagu "Tattooed Love" berbicara tentang pengalaman pribadi, bahwa dalam suatu hubungan sebaiknya meluangkan waktu untuk memproses pikiran sebelum membuat keputusan.

Sejak 7 Juni 2019, "Tattooed Love" sudah tersedia di platform streaming digital.






Power metal dari Singapore, Coup de Grâce rilis single baru

No comments

Monday, June 03, 2019


power-metal-dari-singapore-coup-degrace--rilis-single-baru


Coup de Grâce; Sudah hampir setahun sejak merilis EP debut mereka, Interitus, dan band power metal progresif Singapura ini kembali dengan suara dan dinamisme baru. Pada 1 Juni 2019, Coup de Grâce Feed Your Mind dari album mendatang "Traumatize".



More Information:
Facebook: CDG.METAL



Roster terbaru Sun Eater, Aldrian Risjad, menebar debut single "Milk Candy"

No comments

Thursday, May 30, 2019


Aldrian Risjad;
Bernaung di bawah label independen Jakarta, Sun Eater, penyanyi muda Aldrian Risjad menebar debut single berjudul "Milk Candy". Tembang perdana "Milk Candy" diproduseri oleh Baskara Putra yang sebelumnya sukses meramu .Feast dan proyek solo terkini - Hindia milik sang vokalis.

Ada cerita sendu di balik lagu yang Aldrian Risjad tulis ini. Sebuah kisah pilu sebagai pribadi yang pernah mengalami masa broken home ketika kecil. “Sejak kecil gue broken home. Saat orang tua gue berantem dan memutuskan untuk berpisah, di pikiran gue waktu itu adalah memberi mereka permen susu agar mereka berdamai. Seperti yang gue lihat di salah satu iklan televisi. Namun sayangnya hal tersebut akhirnya tidak tercapai, dan itu masih membekas di memori gue,” turut Aldrian Risjad dalam siaran pers yang kami kutip.

Selain latar belakang lagu yang coba diangkat olehnya, komposisi dari materi musik milik Aldrian Risjad memiliki warna lain sebagai pembeda jika pendengar ingin membandingkannya dengan fenomena solois-solois lain yang menjamur belakangan ini. Elemen rock yang kuat dan padu, Aldrian dengan cermat mencuri telinga khalayak. Kekuatan vokal Aldrian, apik bersanding dengan musik rock modern yang membalutnya. Meski perlu ditempa untuk mengamen dahulu dari panggung ke panggung sebagai sarana pemulas, menempa agar menjadi mental solois rock yang ciamik di kemudian hari.

Proses perekaman debut single "Milk Candy" dikerjakan di Soundpole Studio, dengan bantuan produser dan sound engineer; Wisnu Ikhsantama. Begitu juga dengan sesi mixing dan mastering. "Milk Candy" nantinya sudah direncanakan menjadi bagian dari album mini perdan Aldrian Risjad yang masih digarap dan akan dirilis dalam waktu dekat ini. Untuk departemen visual dikerjakan oleh Mikael Aldo dan Baskara Putra dari Sun Eater.

"Milk Candy" yang dirilis oleh label rekaman Sun Eater pada 17 Mei 2019 lalu sudah dapat pendengar nikmati di seluruh layanan musik masa kini.



Tanayu lepas single perdana di tahun 2019 berjudul Together

No comments

Monday, May 27, 2019

tanayu-lepas-single-perdana-berjudul-together




Tanayu,
Mungkin sudah cukup lama perjalanan Tanayu dalam meniti karir di industri ini. Namun segala pasang surut yang ia lewati tak setetes pun menggerus semangatnya untuk bermusik. Karena membuat karya musik bukan sekedar kebutuhan eksistensi atau materi bagi dirinya. Bermusik adalah kebutuhan jiwanya. Sekuat apapun waktu menuntun jalannya, ia akan belajar dan tumbuh di dalamnya.

Lagu ini mulai ditulis tahun 2018 lalu. Di tengah malam ditengah-tengah percakapannya di dalam kamar. Mendengar cerita yang ia dengar dari pasangannya malam itu tiba-tiba kalimat “of all the man I’ve loved before, you’re the only I give forever” bersamaan rangkaian melodinya. Kemudian ia ke kamar mandi (kamar mandi selalu menjadi saksi banyak karya Tanayu). Merekam lagu yang baru saja muncul dalam pikirannya ke dalam voice note, kemudian ia mengirimkannya sahabat baiknya yang sudah ia kenal sejak lama, yang saat ini akhirnya menjadi produser dalam banyak lagu-lagunya, Bagusikalisasi Setiap kali menulis lagu, Tanayu selalu punya visi tentang komposisi musik agar rasa dalam karyanya tersampaikan. Kemudian ia menyampaikannya kepada Bagusikalisasi, lalu mereka menuangkannya di dalam studio di rumah Bagusikalisasi.

Dalam imajinasinya ia berharap lagu ini menjadi teman dalam perjalanan pulang setiap kali kita merindukan rumah. Atau setiap kali kita membutuhkan ruang yang tenang dan hangat, lagu ini membuat kita memejamkan mata dan membawa kita beberapa saat ke dimensi yang indah dan penuh kedamaian.

Hari Jumat, 17 Mei 2019 lalu, Tanayu akhirnya merilis single baru berjudul, TOGETHER. Single ini akan menjadi pembuka jalan bagi single-single selanjutnya dalam tahun ini, yang rencananya akan menjadi sebuah album. Ia tidak ingin menjelaskan lebih jauh apa isi dari lagu ini. Karena menurutnya, lagu ini bukan hanya tentang dirinya. Dia berharap lagu ini mampu mengetuk hati nurani pendengarnya dengan interpertasinya sendiri.




Merayakan frustasi bersama Morisade melalui single bertajuk “Dalam”

No comments

Sunday, May 26, 2019

Doc. Morisade
Morisade, sebuah band alternatif asal Malang yang baru terbentuk 2018. Warna musik mereka begitu kaya, secara gamblang disebut pop akan tetapi jika disimak secara seksama mereka berusaha menyatukan beberapa aliran musik. Kekayaan musik mereka didapat karena keempat personil, Fahim (Vocal, Guitar ), Munim (Guitar), Mayedha (Bass), dan Nugie (Drum) memiliki influence musik yang berbeda.

Setiap manusia memiliki impian yang ingin diwujudkan, sebesar apapun skalanya, tak ada impian manusia yang boleh kita sepelekan. Namun sayangnya kita dituntut untuk menjadi sebagaimana keinginan orang lain. Hiruk pikuk impian dan tuntutan sosial membuat kita sesak. Jika tidak hidup dengan memilih jalan impian, otak kita akan merasakan sakit dan melumpuh dengan sendirinya. Morisade, melalui “Dalam” mencoba menyampaikan riuhnya kerumitan hidup tersebut.

Doc. Morisade - Dalam / Artwork

Intro dibuka dengan gebukan drum yang energik nan unik. Disusul suara gitar dan bass yang masuk berdampingan, membuat ruang kepala kita seakan sesak oleh ambient yang terwujud di awal lagu. Lalu, kita akan dibawa ke ruangan lain ketika memasuki bagian chorus menyelimuti kedinginan akan kesedihan. Namun seolah kita diajak melarikan diri dari kejengahan tersebut, atau bahkan makin merekatkan punggung kita pada sandaran dan tak ingin kemana-mana.

Tanpa ada kata “dalam” pada liriknya, pendengar diajak untuk berefleksi dengan inner self-nya masing-masing, lagu ini juga mengingatkan kita untuk menghargai mimpi setiap manusia. Ya, “Dalam” ingin menyampaikan pesan bahwa hidup yang jauh dari impian adalah hal yang menyesakkan. Namun meratap dan berdiam diri justru lebih menakutkan, karena pikiran dan imaji meronta-ronta dari dalam, menuntut sebuah pergerakan.

Morisade - Dalam, telah tersedia di semua platform musik favoritmu dan dalam bentuk video lirik yang bisa diakses di kanal Youtube Morisade atau kaian juga bisa simak langsung di bawah ini :



More information:
Instagram : morisade.music
Twitter : morisademusic
Youtube : Morisade Official
Spotify : Morisade



Ultraviolence released the debut "References" album

No comments

Saturday, May 25, 2019

 Ultraviolence
Doc. Ultraviolence
Ultraviolence,
has announced the release of “Safari” on CD-R and official music video. It will be made available via Heavenpunks.

Celebration of the loudest, pessimistic, romantic post-punk of 2019, the year Ultraviolence released the debut “References” album, the featured single wasn’t previously recorded or even available for public.

 Ultraviolence
Ultraviolence - Safari / Artwork by Andro K

The natural world is dark, decaying, and mysterious; it’s impossible to learn how to separate from negativity. We all judge ourselves and others, usually unconsciously. Constantly comparing ourselves to other people or comparing our lives to some ideal breeds dissatisfaction. It’s human nature to dwell on the negative and overlook the positive. Our minds have clever and persistent ways of convincing us of something that isn’t really true. In general, with common elements of poem and goth, the featured single “Safari” is more about sheer terror regarding a suffering state when you feel stressed out, worried, frustrated, angry, depressed, irritable, overwhelmed, resentful or fearful.


Now Ultraviolence have revealed that Rizky Ramadhan will join as part of the band replace Torkis Waladan. Current line-up is rounded out by Bayu Silalhi as bassist, Maulana Akbar as vocal and guitarist Rizky Ramadhan. Rizky Ramadhan has worked with band such as promising stoner rock Xaverius.



For more information:
E-mail: [email protected]


Valentine kelabu, Desy Edhar perkenalkan diri lewat single ‘Distraction’

No comments

Friday, February 15, 2019


Desy Edhar, solois baru dari Samarinda. Memanfaatkan momen hari valentine untuk merilis lagunya yang kontra dengan nuansa hari kasih sayang ini.


Banyak orang akan memanfaatkan hari valentine untuk dijadikan momen tertentu. Dan bagi Desy Edhar, ini adalah momen yang bagus untuk memperkenalkan diri dengan melepas single perdananya yang cukup kontra dengan nuansa hari kasih sayang ini.

Desy Edhar dikenal aktif sebagai gitaris grup musik pop/jazz asal Samarinda, Aphrodite. Berawal dari fase down dalam hidupnya, ia mulai menulis lagu-lagu sendu yang kemudian diunggah ke Soundcloud.

'Distraction' selanjutnya adalah lagu yang dipilih untuk digarap lebih serius dengan dibantu oleh Arie Wardhana (Backstage Studio) sebagai music producer, Desy Edhar menguatkan sisi kegelisahannya di lagu ini.

Tak lepas sampai disitu, bersama Made Mun dari Three AM Studio, 'Distraction' dihadirkan dalam format music video yang juga memvisualkan kegundahan hati yang dihantui kenangan yang tak diinginkan. Simak melalui kanal YouTube Desy Edhar atau kalian juga bisa liat dan dengarkan 'Distraction' miliknya Desy Edhar di bawah ini.



More information:
Soundcloud: desyedhar
Instagram: @desyedhar
Youtube: desyedhar
Booking Contact: +62-852-4694-0820 (Happy)

Foto : Doc/Desy Edhar


kepsir.com 

Mr. Sonjaya merilis single terbarunya berjudul "Sedang Dalam Suasana Cerah"

No comments

Tuesday, February 12, 2019


Unit pop folk dari Bandung, Mr. Sonjaya merilis single terbarunya berjudul "Sedang Dalam Suasana Cerah" pada 8 Februari 2019 lalu. Setelah single "Gita" yang bercerita tentang perjuangan kelas pekerja dan "Cukuplah" yang bertema tentang gangguan mental seseorang. Materi dari single ketiga "Sedang Dalam Suasana Cerah" milik Mr. Sonjaya ini bercerita tentang sebuah ajakan untuk melangkah maju ke ruangan lain setelah merasakan perasaan sedih dan perasaan tersebut kemudian menghilang. Single "Sedang Dalam Suasana Cerah" akan menjadi bagian dari album penuh yang dijadwalkan akan dirilis tahun ini.

Pada sesi rekaman, single ketiga "Sedang Dalam Suasana Cerah" mengambil tempat di Escape Music Studio dan tanggung jawab dari proses mixing dan mastering dipercayakan kepada Rizal Escape.

Berbicara sedikit tentang lagu "Sedang Dalam Suasana Cerah", keriangan yang kental dalam lagu ini diharapkan menjadi entitas baru yang lebih segar dalam mengeksplorasi musikalitas perjalanan Mr. Sonjaya, yang tidak dirasa sudah berusia sepuluh tahun.

Saat ini, Mr. Sonjaya diperkuat oleh Dimas (vokal), Ridha (gitar), Baya (perkusi), Berland (keyboard) dan Andriana (bass). Kelima personil Mr. Sonjaya ini berharap bahwa dengan menerbitkan single terbaru mereka, mereka dapat memberikan nuansa yang menyenangkan bagi siapaun yang menikmatinya.

Selain format audio (streaming digital), "Sedang Dalam Suasana Cerah" juga dirilis dalam format video musik, yang ditayangkan melalui saluran Youtube resmi milik Mr Sonjaya.




kepsir.com 

Beeswax, kuartet emo dari Malang lepas single patah hati berjudul "Pills"

No comments

Setelah merilis album Saudade tahun lalu, Beeswax telah kembali merilis materi baru membuka tahun 2019. Pada 8 Februari kemarin, kuartet emo Malang ini merilis single berjudul "Pills" setelah sebelumnya merilis cuplikan video-nya pada akhir Januari.

Single terbaru mereka, "Pills", terinspirasi oleh kisah cinta yang berakhir tragis.

"Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada patah hati tanpa bisa mengucapkan selamat tinggal kepada orang terkasih secara langsung. Melalui beberapa pesan singkat, hubungan yang telah dibina kandas begitu saja. Lagu ini awalnya merupakan materi pribadi dari Bagas yang pernah diunggah melalui Soundcloud, sebelum dijadikan materi terbaru dari Beeswax, " mereka menulis.

Beeswax mengakui bahwa sound dari lagu ini telah dipengaruhi oleh Copeland era Beneath The Medicine Tree. Beberapa instrumen dan suara baru seperti string, brass dan piano juga mereka hadirkan dalam "Pil".

Sementara mixing single "Pills" dilakukan oleh Mahatamtama Arya Adinegara (gitaris dan vokalis dari Coldiac). Setelah menerbitkan "Pills", Beeswax berencana untuk merilis satu single setiap dua atau tiga bulan dan juga album split dengan band dari Singapura dan Malaysia, serta album terbaru.

"Rilisan terbaru Beeswax hingga seterusnya akan dilepas dan diproduksi oleh label rekaman Yallfears, yang merupakan evolusi dari Fallyear Records," kata Beeswax.

Video klip single "Pills" juga dijadwalkan akan segera dirilis.




kepsir.com 

Melokala, berdamai dengan perasaan lewat mini album "Metafora Rasa"

No comments

Monday, February 11, 2019



Lampung tidak berhenti melahirkan karya-karya dari musisi-musisinya. Salah satunya adalah unit Pop/Alternative Pop asal Bandar Lampung, Melokala, yang telah merilis sebuah mini album yang berjudul "Metafora Rasa" pada 31 Januari 2019 lalu. Grup band yang hanya beranggota tetap dua personel ini dibentuk pada 20 November 2017, yaitu Rivandi sebagai vokalis dan Modjo pada gitar.

Metafora Rasa adalah ungkapan sebuah perasaan seseorang dalam menjalani kisah kasih. Rasa yang diungkapkan dalam mini album mengusung tema tentang hubungan percintaan yang menghimpun perasaan yang kelam, sedih, kecewa, sendu, hingga sebuah upaya untuk berdamai dengan perasaan itu sendiri.

"Mini album ini adalah belenggu sekaligus pembelajaran buat gue, dimana gue sendiri nggak begitu mahir bicara tentang cinta hahaha. Itu yang membuat gua kesulitan dalam proses menciptakan lagu-lagunya. Tapi mini album ini udah kesepakatan band yang mengharuskan temanya tentang cinta, yaudah, gua belajar mendalami sebuah perasaan itu. Pada akhirnya gue berhasil dan lega hahaha." ungkap Modjo.

Artwork/Metafora Rasa/Melokala


Proses produksi lagu dalam mini album Metafora Rasa dikerjakan di 1865 Record, secara bertahap pada Januari dan Juli 2018 serta Januari 2019. Mixing dan mastering dikerjakan oleh Mas Hendry Wijayanto selaku owner 1865 record. Proses penggarapan materi hingga perekaman Melokala dibantu oleh Erry Arya Purnama (Radiofriendly band) dan Herndaru. Pada artwork mini album itu sendiri digarap oleh Modjo yang berkolaborasi dengan Triga Irvanda Fajar selaku seniman kota Bandar Lampung.

"Kalo ngebahas soal mini album pertama Melokala ini, sebenernya kayak masih ngerasa nggak percaya gitu sih. Seolah olah waktu itu cepet banget berlalunya, dan dengan ada nya jarak antara gue sama modjo itu buat Melokala nggak bisa jalan dengan sempurna, tapi untung nya masih ada bang Erry (Radipfriendly) yang nggak pernah berhenti buat ngebantu melokala dari awal. Tapi sekarang melokala udah rilis mini album. sekaligus jadi rumah, identitas dan bukti keseriusan melokala untuk meramaikan permusikan indie di Bandar Lampung dan Indonesia." tutur Rivan.

Mini album Melokala saat ini hanya tersedia dalam format cakram padat. Mengenai rilisan digital, mereka akan menyusul dalam waktu yang belum bisa ditentukan. Namun akan diinfokan pada akun sosial media Melokala.

More information :
Instagram : melokala
SoundCloud : melokala-official
YouTube : Melokala Official

Foto : Doc/Melokala


kepsir.com 

"An Ephemeral", salam damai dari OBITR

No comments


Dalam dunia musik, untuk memperoleh pencapaian artistik dari sebuah karya, tidak jarang pemiliknya memainkan peran lain di luar yang biasa ia kerjakan, melalui proyek yang dihasilkan dari olah rasa dan kepekaan kreasi. yang menurutnya ideal. Aplikasinya beragam, bisa dengan membuat band baru, atau solo, dengan nama alias atau samaran yang sesuai dengan karakter yang ingin ia bangun. Namun demikian, apa yang dilakukan oleh Robi Trianda Putra, seorang drummer dari grup Elkarmoya dan Breh and The Bangsat. Berkat proyek iseng yang santai dan menyenangkan, ia menciptakan OBITR sebagai wadah kreasi di luar bandnya.

Salah satu "peluru" yang ia coba tembak ke audiens diilustrasikan lewat sebuah single berjudul "An Ephemeral". Lagu ini dipilih sebagai single pertama OBITR, dirilis pada 1 Februari 2019, dalam format instrumental dari genre RnB Soul. Itu menjadi menarik, karena lagu ini dibuat berdasarkan orang yang paling dekat dengan OBITR, sebagai bentuk hadiah untuk orang terdekat tersebut. Namun seiring dengan perkembangannya, lagu ini juga dirancang untuk dibagikan kepada khalayak banyak, dengan harapan menciptakan juwa yang damai, sambil bersantai dan sejenak melupakan kesedihan, kecemasan dan suasana hati yang buruk.

Selain itu, apa yang juga menarik tentang lagu ini terletak pada proses kreatif yang dilakukannya sendiri di dalam ruangan, dengan laptop sebagai "senjata," termasuk artwork dan proses mixing dan msateringnya. Kita dapat mendengarkan versi digital dari OBITR berjudul "An Ephemeral" di Spotify, Apple Music, iTunes, Deezer, dan platform digital lainnya.

OBITR mengatakan jika dengan merilis single "An Ephemeral", ia ingin mengundang pendengar untuk membangkitkan jiwa yang damai dengan mendengarkan single ini, di mana kedamaian menjadi sesuatu yang semakin langka, ketika Internet telah menjadi sarana menyebarkan kebencian dan perpecahan. Untuk setidaknya mengurangi kebencian itu, OBITR percaya bahwa musik adalah salah satu sarana yang bagus untuk menyatukan banyak orang.




kepsir.com 

Yura Yunita merilis single dan video klip "Merakit"

No comments


Setelah melewati masa-masa sulit dalam hidupnya, tidak membuat Yura Yunita berhenti berkarya. Jalan berliku yang dialaminya adalah titik balik bagi Yura Yunita untuk kembali bangkit dan terus mewujudkan mimpinya. Dalam segala keterbatasannya, Yura Yunita telah berhasil menjadi orang yang kuat dan konsisten dalam mengejar mimpinya.

Lagu "Merakit" yang terkandung dalam album dengan judul yang sama menjadi gambar nyata bahwa keterbatasan tidak menjadi hambatan untuk pencapaian tujuan. Yura Yunita sangat tergerak untuk membuat lagu "Merakit" setelah bertemu teman-teman penyandang tuna netra dari Yayasan Wiyata Guna di Bandung.

"Bagi saya, teman-teman penyandang disabilitas adalah individu – individu hebat yang mampu bangkit dari segala keterbatasan yang mereka miliki". Begitu saya mengenal mereka, saya tergerak untuk membuat lagu yang menguatkan. Tentang semangat, keberanian, bangun dari keterpurukan.

Terciptalah lagu "Merakit" yang selalu mengingatkan bahwa menyerah bukanlah pilihan hidup. Yura Yunita berkolaborasi dengan sutradara Yogyakarta, Raditya Bramantya, dalam klip video "Merakit." Video musik Merakit diharapkan mampu menerjemahkan cerita dan kata-kata menjadi serangkaian gambar yang memberikan semangat dan kekuatan. Dalam video musik "Merakit", jelas tergambar bahwa teman-teman penyandang disabilitas adalah individu yang selalu konsisten dalam mengejar impian mereka.

Yura Yunita ingin menunjukkan bahwa dengan segala keterbatasan, kita dapat mencapai apa yang kita inginkan. Selain itu, video klip "Merakit" juga menunjukkan bahwa keterlibatan dan dukungan dari kita semua bisa membuat teman-teman disabilitas memiliki hak yang sama. Video klip "Merakit" secara resmi dirilis pada 8 Februari 2019.




kepsir.com 

Kimokal kembali meluncurkan video klip single ‘Wanderlust’

No comments

Friday, February 08, 2019

Setelah merilis single 'Wanderlust' pada akhir Agustus 2018, Kimokal meluncurkan kembali dalam format video klip.




Wanderlust adalah single kedua dari album mereka yang akan datang. Setelah menyelesaikan 2018 dengan tur Inggris, dengan pertunjukan dan program kolaboratif di Manchester dan London, dan dua pertunjukan di Seoul, Korea Selatan, Kimokal sekarang fokus pada beberapa rilisan yang dijadwalkan untuk kuartal pertama di tahun 2019. Setelah video klip Wanderlust, Kimokal akan merilis single dan albumnya pada bulan Maret 2019.

Wanderlust adalah video klip berwarna pertama Kimokal, setelah empat video klip sebelumnya hanya hitam dan putih. Melalui single ini dan dengan album yang akan datang, Kimokal berharap untuk memberikan gambar yang lebih cerah dengan menngambil inspirasi dari perjalanan mereka ke Bali selama proses pembuatan.

Video klip ini menunjukkan Salvita Decorte, seorang aktris Indonesia keturunan India dan Jerman. Dalam video ini, ia menari melalui hutan, dan membiarkan penonton menafsirkan maknanya sendiri.



Foto : Kimokal/Wanderlust


kepsir.com 

Morsh, membawa kita kembali ke lamunan masa lalu lewat lagu 'Abadi'

No comments
Doc/Morsh/Abadi

Winky Wiryawan, Yogi Formatted, dan Diano adalah tiga musisi yang tergabung dalam band bernama Morsh. Ketiganya memainkan peran pematik nada dan irama untuk menari dan berdansa dengan permainan gitar Winky, suara synthesizer dari Yogi dan vokal suara dari Diano.

Sebelumnya Morsh merilis dua single berjudul "Mess" dan "Sequel" pada akhir 2018, menjadi bukti bahwa trio ini cukup total dalam mengolah musik. Melanjutkan kreasi mereka dengan meramu nada dan lirik, Morsh mempersembahkan single terbarunya yang berjudul "Abadi" pada awal 2019 ini.

Selain itu, berkenaan dengan judul "Abadi", lagu ini dipilih karena, selain berbahasa Indonesia, yang dinilai bisa mudah melekat pada telinga pendengarnya, lagu dengan durasi tiga menit ini juga banyak menggunakan 'ambience' khas musik elektronik, dengan lead gitar dan cara bernyanyi dengan menggunakan suara falseto.

Menurut mereka, jenis olahan musik ini dapat membawa kita kembali ke lamunan masa lalu dengan membuka kembali ingatan kebahagiaan, baik itu luka atau tawa.

Lagu "Abadi" yang dibuat oleh Winky Wiryawan ini kemudian "dimasak" oleh Yogi Formatted sebagai penata musiknya, yang kemudian dituntaskan oleh bait lirik hasil olah rasa dari Diano. Lagu ini terdengar istimewa karena, menurut Yogi, ini adalah materi baru dari album ini, baik dalam musik maupun dalam pendekatan spiritual Morsh untuk membuat dan menyelesaikan lagu.

Selain disajikan dalam format audio, lagu "Abadi" juga telah diterjemahkan ke dalam format video klip, yang melibatkan nama Vicky Firdaus sebagai sutradara sekaligus D.O.P dan editor, Irham Abdi Salam (asisten sutradara) dan Taufik AB (camera person) juga berkolaborasi dalam klip ini.

Klip video ini membangkitkan dua bentuk kebahagiaan yang terkait erat dengan kehidupan kita sehari-hari. Apa yang membuatnya video klip ini menarik adalah karena disajikan dengan pendekatan film pendek pendek.

"Abadi" dapat dinikmati di semua portal musik streaming dan melalui saluran Youtube Morsh, atau kalian juga dapat melihat dan merasakannya melalui tautan di bawah ini.





kepsir.com 

GUNS, unit Grunge dari malang yang sulit diatur meluncurkan "Hi Lucy"

No comments
Foto. Doc/Guns

GUNS, unit Grunge dari malang ini merilis single terbaru mereka yang berjudul "Hi Lucy" dalam format video klip.


Melalui rilisan ini, mereka ingin menyadarkan kita bahwa ketakutan adalah sesuatu yang manusiawi, tidak perlu untuk menghindarinya dan bersikap bermusuhan, cukup dinikmati saja disetiap gelapnya.

Hadir dari Malang, Jawa Timur, beranggotakan Alif (vokal), Farhan (gitar), Refo (gitar), Eldy (bass), dan eben (drum), mereka adalah sekelompok orang yang menganggap dirinya sulit diatur. GUNS adalah nama yang mereka gunakan untuk memberi nama unit ini. Melalui identitas ini, lima pria di dalamnya mulai mengekspresikan diri mereka melalui karya sejak 2015, dengan pilihan musik grunge.

Bulan lalu pada tanggal 26 Januari 2019, GUNS merilis lagu baru mereka berjudul "Hi Lucy" dalam format visual. Dalam video klip, mereka menyajikan pertunjukan tari kontemporer yang berpadu dengan musik grunge yang mereka mainkan. Mereka mencoba menggambarkan "Hi Lucy" dalam beberapa kata: "Sebuah ketakutan yang luar biasa".

''Representasi visual yang mencoba memberikan sumbu imajinasi mengenai ketakutan hebat yang muncul dari dalam diri sendiri. Gertakan dari dalam tidak dapat dengan mudah dihilangkan namun dapat dengan mudah disembunyikan. Jangan menjadikan takut sebagai musuh, rasakan takut itu dan nikmati setiap gelapnya.
Takutlah, selama kaki masih bisa melangkah, sebab takut merupakan salah satu wujud dari rasa kemanusiaan. #TakutTapiTidakSendirian''

Kutipan di atas diperoleh dari kolom deskripsi yang dapat kita temukan di bawah video "Hi Lucy" di saluran YouTube GUNS Official.

Dengan kata lain, melalui lagu "Hi Lucy", mereka ingin menunjukkan bahwa rasa takut adalah hal yang wajar dirasakan oleh manusia. Tidak perlu bermusuhan, tidak perlu dihindari. Karena ketakutan akan selalu muncul selama kita masih menjadi manusia, jadi biarkan saja ketakutan itu hadir dan kita nikmati setiap detik.





kepsir.com 

Rubah di Selatan luncurkan album perdana, 'Anthera'

No comments


Yogyakarta – Unit folk/post-rock Yogyakarta, Rubah di Selatan, telah secara resmi meluncurkan album pertamanya yang berisi 10 lagu dengan judul Anthera pada tanggal 1 Februari lalu. Album ini menjadi saksi perjalanan Mallinda Zky, Gilang Pultn, Yayan Padz dan Ronie Udara, empat Rubah di Selatan yang telah melalui berbagai fase dari mulai terbentuk hingga melahirkan album.

"Seneng banget, lega, ga nyangka juga dulu soalnya Gilang awalnya cuma ngajak aku jamming biasa gitu ternyata bisa sampai sejauh ini. Lega yang pasti. Semoga ini jadi awalan yang menyenangkan untuk kedepannya atau album-album berikutnya," kata Mallinda (vokal), dikutip dalam siaran pers.

Anthera direkam di studio kamar, tepatnya kost yang berukuran 3x3, yang sering dimulai di pagi hari untuk mendapatkan kondisi audio yang bebas dari polusi suara. Judul Anthera berasal dari bahasa Latin modern yang berarti kepala sari.

Artwork/Anthera/Rubah di Selatan

Album ini menceritakan perjalanan ke dimensi lain. Perjalanan itu dimulai dari "Selaba" dan berakhir di "Leave Anthera".

"Sempat merasa panik ketika mau rilis. Karena basic kami belum pernah merilis album sebelumnya, jadi ini adalah album pertama Rubah di Selatan, dan album pertama dari kita masing-masing. Piye cah piye cah itu telah menjadi percakapan yang sering terungkap belakangan ini, pada panik semua. hahaha," tambah Gilang.

Selain merilis album pertamanya, Rubah di Selatan juga tengah menyelenggarakan Anthera Tour: Part 1 di beberapa kota di Sumatra, Kalimantan dan Jawa. Dalam rangkaian tur, Rubah di Selatan membawa konsep special show yang belum pernah ditampilkan sebelumnya.

Dan kabarnya juga, Rubah di Selatan berencana untuk merilis album pertamanya dalam bentuk fisik dan boxset. Dan dengan dirilisnya album, Anthera, resmi menjadi rumah pertama bagi Rubah di Selatan.




More information
Website : www.rubahdiselatan.com
Instagram : rubahdiselatan
Youtube : bit.ly/2LCMt19
Bandcamp : rubahdiselatan.bandcamp.com


kepsir.com 

"Kurang Piknik", ode dari Pyongpyong untuk kelas pekerja

No comments
Foto : Doc/Pyongpyong

Terbilang lama malang melintang di skena musik Semarang dan di beberapa daerah di Jawa Tengah, pop punk Pyongpyong jelas sudah tidak asing lagi. Sejak awal 2000-an, Pyongpyong sudah hilir mudik dari gig ke gig lainya. Mereka bahkan masuk kedalam beberapa album kompilasi, Berpacu dalam Melodic (Proton Records, 2005) salah satunya dengan lagu andalan "My Wife is a Lesbian".

Dalam perjalanannya, trio yang sekarang terdiri dari Adit Salju (bass / vokal), Fajar Pandudewanata (gitar) dan Bayu Nugraha (drum) belum menerbitkan satu album (mini) yang terpublikasi meskipun punya banyak lagu. Pada 2015, mereka memutuskan untuk hiatus lalu sempat merilis single "Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki" pada tahun 2017.

Namun, Pyongpyong sekarang siap untuk kembali dengan single yang disebut "Kurang Piknik", Lengkap dengan videonya. Untuk penggarapannya, Pyongpyong bekerja sama dengan Hyena Films, Yogyakarta. Secara umum, single baru tersebut menceritakan kehidupan kelas pekerja secara umum. "Tentang suntuknya menjadi seorang pegawai yang bekerja selama 5–6 hari dalam seminggu," kata Adit. "Belum lagi tenggat waktu, target, dan sejenisnya. Waktu luang untuk berlibur pun belum tentu bisa dinikmati."

Jika diperhatikan, single ini memiliki gaya yang berbeda dari lagu-lagu Pyongpyong sebelumnya. Aroma Reel Big Fish, Goldfinger dan Less than Jake keluar dari "Kurang Piknik". Dengan perilisan single tersebut, Pyongpyong juga mengkonfirmasi bahwa mereka belum selesai. Sisa-sisa bahan bakar masih bisa dinyalakan. Selain itu, mereka juga bersiap untuk menindaklanjuti resureksi ini. "Sebagai pengukuhan bahwa dengan formasi ini, kami aktif kembali. Lagu itu juga menjadi salah satu materi album mini," pungkas Adit.




kepsir.com 

Satwa, melanjutkan kisahnya dengan single ke tiga berjudul “Senja Sirna”

No comments
Foto : Doc/Satwa

"Senja Sirna" perasaan ketika seseorang merasa patah hati.


Bagi beberapa musisi atau band yang menulis lagu cinta bukan merupakan hal yang sulit, karena tema ini cukup mudah untuk digambarkan, mengingat cinta adalah hal mendasar yang bisa memiliki kedekatan pribadi dengan pendengar.

Tetapi bagi band yang tidak terbiasa menulis lagu dengan tema ini, menulis lagu cinta menghadirkan tantangannya sendiri, seperti yang dirasakan oleh Satwa, unit ballad folk dari Bandung.

Setelah merilis single "Setangkai" dan "Tembakau", yang dinilai memiliki analogi yang menarik pada seseorang, itu berarti bagi si pemilik lagu, kali ini Satwa melanjutkan ceritanya dengan single ketiganya yang berjudul "Senja Sirna".

Kelompok ini diperkuat oleh Sandika aribowo (vokal), Diar Hadiar (gitar), Ari apriliana (gitar akustik), Kurniandi ismail (bass), Tantan (drum) dan Gani Nurdiyana (keyboard / synthesizer), mengatakan jika single "Senja Sirna" bercerita seputar cinta, yang didasarkan pada perasaan ketika seseorang merasa patah hati. Ini dianggap menarik karena terinspirasi dari kisah cinta sepihak atau bertepuk sebelah tangan, ketika sang pria mencintai seorang wanita, tetapi dia menyadari bahwa hubungannya terbatas pada teman atau sahabat dan tidak bisa bersatu sebagai kekasih.

Satwa tampaknya mengajak penikmat karyanya untuk bergalau ria, tetapi dengan lirik yang sarat makna. Selain itu aransemen lagu yang membawa kita ke akhir tahun 1980 -an. Ini bisa didengar dengan suara gitar yang clean dan minimal distorsi, serta oleh suara drum retro dari lagu ini, yang sepertinya mengundang kita untuk menari dalam kesedihan.

Tidak hanya dirilis dalam format audio, Satwa juga meluncurkan lagu ini dalam format klip video yang diproduksi oleh Gerry Riyadhi. Video ini adalah tentang seorang pria yang tampaknya memejamkan mata dan tidak bisa menerima kenyataan hubungannya dengan sang wanita, sampai wanita itu akhirnya membuka mata sang pria agar dia menerima fakta bahwa mereka tidak dapat dipersatukan.





kepsir.com 

Coldiac menyambut bulan Februari dengan perilisan single ke-3 dari album “O” berjudul “Vow”.

No comments
Foto dok. Coldiac / GZZ Records

Februari. Bulan kedua ini identik dengan bulan cinta, ditandai dengan perayaan Hari Valentine. Untuk mengabadikan momen tersebut, beberapa musisi atau band merayakan acara ini dengan menerbitkan sebuah karya, dari single hingga album. Terlepas dari semuanya, sekelompok indie rock dari Malang, Coldiac, menyambutnya dengan perilisan single ke-3 dari album “O” berjudul “Vow”.

Setelah merilis album bernama O, Coldiac memperkuatnya dengan merilis single ketiganya yang berjudul "Vow". Seperti yang terlihat dalam judul, yang diartikan sebagai sumpah sehidup semati, lagu "Vow" itu menurut mereka, merupakan gambaran dari lagu romantis yang berisi pernyataan cinta untuk seseorang.

Pemilihan lagu "Vow" bukan tanpa alasan, mengingat lagu ini telah menjadi favorit banyak pendengar, terutama ketika dibawakan secara live oleh unit indie rock ini. Selain itu, dalam isi lirik, lagu ini disajikan dalam gaya bahasa yang sederhana, lugas dan juga penuh cinta, hingga dirasa cocok sebagai soundtrack bagi mereka yang ingin melamar orang yang mereka cintai.

"Vow" dirilis secara bersamaan di berbagai saluran streaming digital sejak 31 Januari 2019 lalu melalui GZZ Records, lagu ini memiliki melodi paling cerah dibandingkan dengan single-single sebelumnya dari album O. Menariknya, selain dirilis dalam format audio , band yang meraih nominasi Best group/kolaborasi/duo R&B 2018 AMI Awards ini juga merilis video lirik untuk lagu "Vow" pada hari yang sama, melalui saluran YouTube resmi mereka.

Mengenai lirik video, estetika yang digunakan dalam video itu sendiri bernuansa visual yang sama dengan visual dari album O, yang memiliki dominasi hitam dan jingga. Bhima Bagaskara sebagai art director video ini bekerja sama dengan Iqbal Febiran untuk pelaksanaannya.

Selain itu, mereka juga menambahkan bahwa versi alternatif dari lagu "Vow" juga dirilis pada 8 Februari 2019, di berbagai saluran streaming digital. Versi terbaru ini, juga dirilis di bawah naungan GZZ Records, hadir dengan aransemen yang lebih minimalis, tanpa mengurangi romansa versi aslinya, sebagai hadiah dan ungkapan terima kasih kepada penggemar dan pendengar setia Coldiac.



Instagram : Coldiac


kepsir.com 

Latest News

Loading...