MAHASISWA VS KOMUNITAS - Kepsir | Musik, seni, ulasan, video, galeri, blog dan lainnya.



Theme Layout

Theme Translation

Trending Posts Display

No

Home Layout Display

No

Posts Title Display

No

404

We Are Sorry, Page Not Found

Home Page
T
iba-tiba keinget obrolan dulu ketika masih aktif dalam organisasi di kampus, obrolan itu membahas tentang mahasiswa/i yang masih suka (atau akan terus) melakukan penggalangan dana di lampu merah yang hanya bermodalkan kotak amal atau kardus bekas yang ditempel kertas HVS yang teksnya sendiri sudah mulai pudar, bertuliskan "PEDULI BLA BLAA BLAAA...). Rata-rata yang sering di temui memang yang begitu ya mahasiswa/i, oke kalo masih pelajar SMA/SMP masih bisa dikatakan minim, tapi yang katanya mahasiswa itu kritis/kreatif, SEHARUSNYA bisa lebih bisa memanfaatkan apa yang minimal menjadi maksimal, lalu apa bedanya mahasiswa/i dengan pengemis di lampu merah? Cuma beda di baju (almamater) dan pengemis gak pegang HP untuk Instastory... hmmmm~

Yang menjadi cambukan buat gue yang notabene mahasis(w)a, saat gue tau ada teman-teman dari lintas komunitas yang bergabung menjadi satu tujuan untuk melakukan penggalangan dana bernama RESPONSIVE FOR BENGKULU yang ditujukan untuk saudara-saudara yang terkena bencana di Bengkulu pada waktu lalu. Di luar prediksi, ternyata kenyataannya komunitas memang lebih kreatif dan kritis dibanding kalian dibalik almamater kampus kalian. Pentingnya sebuah kesadaran yang sangat besar dan juga jaringan yang besar pula untuk bisa membuat komunitas-komunitas ini bersatu. Hal ini yang tidak dimiliki mahasiswa/i sekarang yang hanya bermodal gayanya dulu daripada sikapnya, no offense yak tapi sebagai bahan pelajaran aja.

Lupakan mahasiswa/i di bawah teriknya matahari dan lampu merah, kita bahas RESPONSIVE FOR BENGKULU aja. Acara penggalangan dana yang dilakukan pada bulan Ramadhan tahun kemarin ini dilakukan beberapa minggu secara estafet dari tempat ketempat saat sore (ngabuburit) mulai dari bawah Fly Over Pahoman, Tugu Juang, Elephant Park. Banyak lapakan-lapakan seperti zine, album, lukisan, artwork, kaos Tie dye dan banyak lagi sumbangan dana dari hasil lelang. Hasil dari acara ini terkumpul (berapa gitu gue lupa, tapi lumayan banget) dan lebih puas. Salute!

Bukan hanya itu, tapi ada band-bandnya juga. Cukup banyak waktu itu yang mau berpartisipasi dalam acara amal itu. Fun yang dikemas serius. Tapi tetep aja ada yang merasa ingin dituakan, ada aja masalah klasik yang seharusnya gak terjadi dan masih aja ada yang berpikiran kayak gitu. Tapi yaudahlah yah, kita doakan yang seperti itu cepet berubah, hilangin egonya dikit untuk skena bersama kan gak ada ruginya. Dan semoga anak-anak dan keluarga korban bencana di Bengkulu waktu itu bisa bangkit kembali dan bantuan yang didapat bisa bermanfaat.

Dan yang terakhir untuk mahasiswa/i yang masih suka minta amal di lampu merah, coba ubah pola pikir kalian, kalian bisa lakukan dengan hal-hal yang lebih simpel contohnya ya jual gorengan mungkin? Itu lebih cool dari pada kalian nampang badan di lampu merah. Yee gaak? RIOT!

Editor: NOISE

Artikel ini telah tayang sebelumnya di riotcirclezine.kepsir.com
Written By

Riot Circle Zine

Music Blogzine.
Baca Juga:

ADS