Kembali dari Tokyo, Joshua Loing rilis album "Almost Sounds Sincere" - Kepsir | Musik, seni, ulasan, video, galeri, blog dan lainnya.



Theme Layout

Theme Translation

Trending Posts Display

No

Home Layout Display

No

Posts Title Display

No

404

We Are Sorry, Page Not Found

Home Page
Joshua Loing;
Songwriter yang lahir dan besar di Bekasi, yang mempunyai misi untuk mengubah lagu-lagu pop standar menjadi sebuah lagu indie pop yang berisi siulan dan dentingan instrumen-instrumen orkestra. Semuanya terinspirasi dari cara penulisan melodi John Williams hingga lirik yang berisikan sentilan-sentilan jenaka dari Ian Felice.

Dia dijuluki orang yang paling menyendiri di Bali dan itu bukan tanpa alasan, di tahun 2018, dia mengurung diri di studio kenamaan Lucretia di Denpasar Utara untuk menyelesaikan solo albumnya yang berjudul "Almost Sounds Sincere". Direkam, mixing dan mastering oleh Sound Engineer veteran di Bali, Oka Arimbawa (Anti Pop, Bulu Babi Beracun, Timah Panas). Album ini awalnya hanyalah kumpulan lagu yang terdiri dari 5-track instrumen yang diubahnya menjadi chamber orkestra yang solid, yang di produksi oleh dia sendiri.
[post_ad]
Kembali ke tahun 2008, Joshua Loing mengadakan solo show pertamanya di Varit Live House di Kobe, Jepang. Ia membawakan 8 lagu original yang diselingi oleh beberapa cover dari Elliott Smith, “Alameda” adalah salah satu lagu favoritnya yang di bawakan. Harga tiket yang di bandrol sekitar 2500 Yen (+/- 300 ribu Rupiah) sempat menciutkan nyalinya. Harga sebesar itu dirasa sangatlah mahal bagi dirinya; Songwriter dari Bekasi yang baru berumur 19 tahun yang hanya memiliki beberapa lagu original. Tetapi ia bertekad untuk mengatasi kecanggungan itu semua dengan membawakan lagu-lagunya dengan lantang di depan penonton di Kansai. Malam itu berakhir dengan sejuk ketika ia disambut oleh musisi lain yang tampil di backstage yang penuh dengan stiker-stiker band ternama di Jepang seperti Eastern Youth hingga Polysix.

Joshua Loing Bersama denga musisi Jepang di backstage Varit

Itu menjadi awal yang patut untuk di ceritakan tentang seorang Joshua Loing, karena hal itulah bagaimana sebuah album bertajuk "Almost Sound Sincere" lahir dari seorang Joshua Loing.

Joshua Loing, Varit 2008
Beberapa tahun setelah itu, ia tidak pernah berhenti berkarya di dalam kamarnya yang sepi dari spotlight media, ia memutuskan untuk melanjutkan kuliah nya dengan belajar Ilmu Orkestrasi. Lahirlah sebuah visi untuk mengawinkan sound gitar folk dengan instrumen-instrumen Orkestra, lagu pertama yang ia berhasil kawinkan adalah ‘Olympia Time-lapse’. Dengan bantuan beberapa kawan ia menyulap lagu dengan birama 3/4 itu untuk menjadi lagu bernuansa orchestral folk yang kental dengan alat tiup orkestra.

Joshua Loing di kamarnya

P
ada tahun 2016 ia memutuskan untuk berhenti bekerja dan pindah ke Tokyo untuk mendalami scene musik di Jepang. Dari ratusan klub-klub kecil di Tokyo hampir setiap minggu 2 diantaranya dia sambangi. Membawakan lagu-lagu yang semuanya berakhir di album "Almost Sounds Sincere" tersebut. Sebut saja ‘Paris Syndome’ dan ‘Last Whisper Home’. Setelah mendapat masukan-masukan dari beberapa musisi di Jepang ia pun akhirnya menyimpan arahan-arahan tersebut dan membawanya pulang ke Indonesia untuk direkam.

Setelah 2 Tahun berlalu, tepatnya pada tahun 2018 lah ia akhirnya memutuskan untuk menggarap album tersebut dan pindah ke Sesetan, Denpasar, Bali. Ia mempercayai Oka Arimbawa (Bulu babi beracun, anti-pop, timah panas) untuk merekam, mixing dan mastering album "Almost Sounds Sincere".

Cover Artwork "Almost Sounds Sincere" - Joshua Loing

Album "Almost Sounds Sincere" sudah terbuka bebas untuk sebuah interpretasi pendengarnya. Diawali dengan motif 6/8 di lagu “Prelude: First Whisper” menandakan keadaan dibawah alam sadar mimpi dan motif di lagu tersebut diulang di lagu terakhir “Last Whisper Home” dimana sang karakter bercerita di alam lain.

"Almost Sounds Sincere" adalah karya Loing yang paling tulus yang pernah dia keluarkan sebagai seorang songwriter yang tahu bagaimana caranya menghasilkan timbra yang berwarna dari sebuah orchestra.







Baca Juga:

ADS