Long Live The Scene! - Kepsir | Musik, seni, ulasan, video, galeri, blog dan lainnya.



Theme Layout

Theme Translation

Trending Posts Display

No

Home Layout Display

No

Posts Title Display

No

404

We Are Sorry, Page Not Found

Home Page

Mengatasnamakan diri sebagai pencinta musik pastinya akan menuai konsekuensi dan beban tersendiri. Saat semua nya bersandar pada teknologi dan peranan internet membuat kita secara tidak langsung harus berkejaran dengan kemajuan jaman dan diperbudak oleh trend.

Trend, yang dulu mungkin akan dipandang sebagai aplikasi modern life style, saat ini dapat berubah secara periodik, bagai mesin waktu, membawa trend lama berulang. Hanya saja ada yang ditambah bahkan dikurangi dan di mix dengan kreatifitas modern yang lebih fresh. Semakin banyaknya referensi dan influence dari budaya barat, dimana musik secara universal menjadi bentuk konkrit dari pengembangan bahasa. Ya, music is an universal language. Dan salah satu penghargaan terhadap hal itu adalah Komunitas. Sebagai makhluk yang terlahir dengan insting bersosialisi, mungkin sebutan komunitas tidaklah
aneh.



Itu karenanya, untuk membahas komunitas, saya tidak pernah kehabisan akal. Begitu banyak yang harus dibahas, dari segi apapun bisa dijadikan inti. Jadi, ngga perlu basa – basi panjang untuk memulai ini semua.

Tiap komunitas pasti punya karakter masing-masing, dan komunitas musik indie yang akan saya bahas saat ini.

Sebagai penikmat musik, sudah sekian lama saya berusaha untuk memahami dan mendalami setiap celah – celah yang ada. Untuk kota Lampung sendiri, begitu banyak komunitas yang ingin saya bahas. Begitu banyak hal yang menarik dan layak untuk di teliti, mengingat karakter orang Lampung tidak hanya penikmat musik tapi juga mempunyai waktu dan pikiran yang lebih luang untuk menjadi pengamat. Ini hal yang bisa dibilang seru, bila membahas uniknya hubungan antara musik dan komunitas itu sendiri. Semakin banyak event atau gigs yang ada, semakin banyak penikmat musik, semakin beragam komunitas yang ada. Ini yang menarik bagi saya, membahas komunitas itu sendiri. Maka bermunculan lah banyak pertanyaan di otak saya. Ada apa dengan trend komunitas ini? Siapa otak-otak jenius idealis yang mau ribet dengan hal-hal yang berhubungan dengan mempertahankan ke-eksis-an suatu komunitas? Apa yang mendasari mereka memutuskan unite dan membentuk suatu koloni, berusaha mengangkat pride dari musik kegemaran mereka? dan banyak lagi pertanyaan – pertanyaan yang kalo dijadikan soal, pasti akan dijawab dengan senang hati oleh kalian yang memang penikmat bahkan pelaku musik sejati.

Kembali lagi kepada istilah: musik adalah bahasa universal. Dimana seharusnya dibahasakan secara verbal menjadi alat yang kebetulan bersifat menyenangkan, dan manusiawi membuat kebahagiaan yang sederhana.

Saat bertemu dengan kata “komunitas”, secara tidak langsung mungkin ada anggapan bahwa hal tersebut bisa berubah bentuk, yang tadinya berbentuk lingkaran, akhirnya menjadi pengotakan. Komunitas, yang positif nya bisa menjadi suatu wadah untuk pengekspresian dan pencurahan kreatifitas kadang ternodai oleh ego masing-masing, yang kita sebut sebagai: pengekslusifan komunitas. Yang bisa kita yakini, semua itu tidak terlepas dari attitude masing-masing personal.

Oleh karena itu, menurut saya peranan suatu komunitas disini sangatlah penting. Mereka harus memikirkan bagaimana cara nya tetap berpegangan pada masing-masing roots, akan tetapi tidak harus saling meng-eksklusifkan diri. Perlu di garis bawahi, komunitas bukan lah ajang pengelompokan orang atau jenis musik tertentu, tapi wadah bagi para musisi,  penikmat bahkan pengamat musik itu sendiri.

Kesimpulannya, tulisan ini bukan suatu propaganda untuk membuat kita terpaku pada satu komunitas, akan tetapi sebagai bukti penghargaan pada semua scene yang ada. Harapannya, dengan ini kita secara jelas tidak berpihak pada satu komunitas saja, atau bahkan memandang sinis komunitas lain, tapi berusaha menghargai setiap usaha yang telah dibangun oleh setiap scene-nya.

LISTEN, RESPECT, BUILD!



Warga sipil, hobi minum-minum, rutinitas merokok.
Instagram \\ Twitter


kepsir.com 

Baca Juga:

ADS