The Power of Stage! - Kepsir | Musik, seni, ulasan, video, galeri, blog dan lainnya.



Theme Layout

Theme Translation

Trending Posts Display

No

Home Layout Display

No

Posts Title Display

No

404

We Are Sorry, Page Not Found

Home Page


Interpretasi - Budaya Populer
Menurut Richard L. Palmer, interpretasi itu adalah proses komunikasi melalui lisan atau gerakan antara dua atau lebih pembicara (Palmer : 2003). Kenapa definisi interpretasi itu diutarain didalam kajian ini, karena kajian ini bakal ngebahas tentang penafsiran musisi ketika berada di atas panggung.

Hampir dari keseluruhan penggiat musik terutama musisi pengen punya panggung pertunjukan biar bisa ngeinterpretasikan karya musik yang udah diciptain. Kenapa dibilang “hampir semua?” Karena wadah intepretasi setiap penggiat musik itu berbeda-beda, dimulai dari panggung pertunjukan sampe media sosial yang saat ini sering digunain buat kepentingan eksistensi para musisi. Tapi dalam pembahasan ini secara eksplisit bakal terfokus sama wadah interpretasi musisi berupa panggung pertunjukan.

Seperti yang dijelasin sama Ariel Heryanto didalam buku dia yang berjudul "Identitas Kenikmatan" menyatakan kalo terdapat dua kategori yang jadi ciri khas masyarakat budaya pop. Pertama: masyarakat budaya pop yang ngedistribusiin hasil kreativitas lewat media atau jejaring sosial. Yang kedua: secara langsung lewat suatu pristiwa kayak keramaian publik, parade, dan juga pergelaran, dalam hal ini bisa berupa panggung pertunjukan. Berdasarkan kesimpulan dangkal yang berakar dari definisi budaya pop, maka bisa dibilang kalo saat ini mayoritas musisi atau penggiat musik ngegunain kedua kategori budaya tersebut buat ngedapetin respons dari para pendengar atau penonton. Kedua budaya tersebut digunain para musisi didalam banyak ragam wadah interpretasi, salah satunya panggung pertunjukan musik (stage).

Stage
Pemaparan interpretasi dan budaya pop tadi jadi jembatan tentang peran panggung pertunjukan sama karier musisi pada umumnya. Kenapa? karena panggung pertunjukan punya peran penting, bisa nambah musikalitas sampe pengaruh positif psikologis musisi tersebut.

Percaya dan harus percaya kalo setiap musisi punya pengalaman panggung yang bisa dianggap lucu, nyedihin, sampe genes. Tapi satu hal yang jadi prinsip pas seseorang mutusin buat jadi musisi pertunjukan (performer) yaitu jangan pernah ngeraguin juga ngeremehin kekuatan panggung pertunjukan “The Power of Stage”, karena setiap panggung pertunjukan punya feedback nya masing-masing.

Beberapa musisi di sekitar ada yang bilang “Halah ini panggungnya esek-esek, norak banget nih panggungnya, yaudah anggap aja latihan yaa, enggak usah serius banget.” Musisi yang bilang kayak gitu tuh adalah musisi yang gak percaya sama kekuatan panggung pertunjukan dan feedback dari pertunjukan tersebut, atau mungkin aja dia nganggep musik cuma sekadar buat ngisi waktu luang saja. Dalam pembahasan ini mungkin bisa ditegesin kalo musik juga punya hukumnya sendiri, punya attitude-nya, dan cobalah buat ngehargain musik, karena musik udah jadi kebutuhan pokok para penikmatnya. Kalo musik dimainin sama musisi yang gak punya attitude dan kegakseriusan, maka beberapa penikmat mulai bakalan kehilangan kebutuhan pokoknya.

Crowd
Kemungkinan terbesar musisi gak bakalan sadar siapa aja yang lagi nyaksiin dan perhatin kalo lagi beraksi di atas panggung, kadang juga beberapa musisi yang lagi beraksi bisa terpengaruh sama jumlah penonton, “Penontonnya sedikit, ya sudahlah gak usah aksi berlebihan, buat apa aksi toh sepi kok.” Tapi hal penting yang dilupain adalah “jumlah penonton yang banyak belum tentu tanggap dengan apa yang udah diinterpretasiin”.

Seperti yang diutarain sama Joakim Nilsson, vokalis sekaligus gitaris Graveyard asal Swedia, dalam wawancara khusus sama Headbanger Lifestyles ngungkapin kalo:

“I just love playing music. I need the motivation of everybody in the band. The communication between the musicians on stage, you don’t have to say anything you just play together. And then there is the crowd. We don’t have the loudest crowd I guess but we have a good crowd.”

Pernyataan tersebut cukup nyimpulin kalo komunikasi antar musisi adalah ketika maenin musik, bukan ngomong hal lain yang mungkin bisa ngeganggu konsentrasi ketika berada di atas panggung, apalagi ngehawatirin jumlah penonton.

“We don’t have the loudest crowd, I guess but we have a good crowd” – Joakim Nilsson.
Hal penting yang bisa diambil dari ungkapan tersebut, seburuk apapun kondisi atau keadaan panggung pertunjukan, jangan pernah sedikit juga ngeremehin atau ngeraguin kekuatannya, karena kita gak bakal pernah tau siapa yang lagi perhatiin kita. Mungkin sontak terpikir hal positif dibenak para musisi kalo di antara keramaian penonton ada seorang produser, sampe pihak penyelenggara atau bahkan promotor pertunjukan besar yang berskala Internasional. Gak menutup kemungkinan aksi band di atas panggung juga diperhatiin sama band lainnya yang mungkin udah punya nama besar atau lebih terkenal.

Fenomena ini terjadi ketika waktu itu Green Day kudu berbagi panggung sama The Hives yang jumlah pengemarnya jauh gak sebanding apabila dibandingin sama Idiot Nation. Nyaksiin penampilan The Hives yang memukau di hadapan para pengemar Green Day, ngebuat frontman Green Day, Billie Joe Amstrong bilang kalo The Hives adalah band dengan aksi pertunjukan yang besar.

Inti dari kajian ini adalah: panggung pertunjukan punya pengaruh besar bagi setiap musisi, apabila kondisi band yang lagi digawangi merupakan band dalam kategori promosi, atau katakanlah seumur bayi maka alangkah baiknya tetap totalitas walaupun keadaan panggung atau hal yang bersifat teknis gak memadai. Karena seperti yang udah dibahas bahwa kita gak tau siapa yang lagi nyaksiin dan memperhatiin kita.

Siapa sangka di antara sepuluh penonton di hadapan kita, salah satunya itu orang yang bakalan ngebawa kita ke stage yang kita harepin. Itulah panggung pertunjukan dan kekuatannya, berada di atas panggung ngehabisin seluruh tenaga. Megahnya stage itu tergantung sama aksi yang di tunjukian di hadapan crowd. Jangan hirauin apapun, tetep fokus sama GOD STAGE ! GOD CROWD !

 
* Jeff 'Kasino Brother'



www.kepsir.com
Baca Juga:

ADS